[Review] Serendipity by Erisca Febriani

Minggu, 20 November 2016


Judul : Serendipity
Penulis : Erisca Febriani
Penerbit : Inari
Penyunting : Adeliany Azfar, Gita Romadhona
Desainer Sampul : Indah Rakhmawati
Harga : Rp89.000
Tebal : 424 halaman
Terbit : Cetakan I - November 2016
ISBN : 978-602-74322-9-1

Blurb:
Dulunya, Arkan dan Rani adalah sepasang kekasih. Tiba-tiba, di sebuah taman kota, Arkan mengikrarkan bahwa mereka harus berpisah.
Dua bulan telah berlalu. Sekarang, meskipun mereka satu kelas, Arkan tidak pernah lagi menyapanya. Kadang, memang selucu itu; mereka yang dulu bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mengobrol tentang apa pun, kini bahkan tidak tahu bagaimana caranya mengucapkan ‘hai’ atau ‘selamat pagi’.
Rani tahu Arkan membencinya. Rani tahu ini kesalahannya. Tapi Arkan seharusnya mendukungnya. Dia sedang berusaha bertahan hidup. 
Dengan segala kemampuannya, dengan segala perisai dan kekuatannya, Rani berusaha bertahan dan berdiri tegak.
***

Source : We Heart It.
“Rani masih tidak menyangka bahwa seseorang yang begitu istimewa baginya, menjadi bagian dari kenangan manis yang terpetakan baik di hati, justru berbalik arah menjadi seseorang yang menikamnya dengan belati.  -Page 21.



Semua berubah dalam sekejap dalam hidup Rani sejak malam itu. Di mana Arkan Indra Kamajaya memergokinya, juga memutuskan untuk mengakhiri kisah mereka detik itu juga. Kemudian sedikit demi sedikit, orang-orang di sekitar Rani jelas menunjukkan sikap bahwa mereka menghindari gadis itu. Menatapnya bak makhluk  aneh. Menganggapnya membawa pengaruh buruk. Semuanya, bahkan Jean yang menjadi sahabatnya selama ini.

Mereka menyerap berita dari apa yang mereka lihat. Menyimpulkan semuanya seorang diri, berspekulasi mengenai kebenaran yang ada di balik semua foto-foto yang beredar, tanpa memberikan kesempatan pada Rani untuk menjelaskan yang sebenarnya. Menghujat, merendahkan, menghakimi,  mereka dibutakan oleh rasa percaya diri tinggi.

Lalu muncul Gibran si anak baru keturunan Arab-Indonesia, yang seakan memang ditakdirkan untuk menghibur Rani di masa-masa sulitnya ini, meskipun awalnya Rani kurang nyaman dengan tingkahnya yang petikilan dan hobi tebar pesona. Tapi Gibran berbeda, ia tidak serta merta memercayai gosip tentang Rani yang beredar di kalangan teman-temannya begitu saja.




“Lo sebenarnya masih sayang, kan, sama Rani?" - page 322.

Namun bagaimana jika Gibran telah melihat bukti yang membuat gosip itu tak bisa disangkal lagi? Bagaimana jika saat fakta mulai terungkap, semua ini ternyata lebih pelik dari yang dibayangkan? Dan kemudian Rani tahu bahwa ia harus menerima fakta, bahwa hidupnya sudah tak akan mungkin bisa sama lagi.

***

Ada yang sudah tidak asing dengan nama Erisca Febriani? Bagi remaja kebanyakan (termasuk saya) terlebih bagi mereka yang merupakan pembaca Wattpad, Erisca sudahlah tidak asing, ia adalah penulis muda dari Dear Nathan, salah satu novel teenlit dari Wattpad yang fenomenal dan saat ini sedang dalam proses adaptasi ke filmLalu kemudian saya dikejutkan dengan Penerbit Inari yang akan menerbitkan karya Erisca lainnya, yaitu Serendipity yang juga sempat diposting di Wattpad. Penerbit Inari! Salah satu Penerbit favorit saya! Meskipun saya kurang suka dengan Dear Nathan, hal itu tak membuat saya untuk tidak mencoba karyanya kali ini.

Setelah mendengar kabar tersebut, saya mulai bertanya ke beberapa grup Line seputar Wattpad di mana saya menjadi anggota di dalamnya, menanyakan kepada mereka yang mengikuti Serendipity di Wattpad, "Sebenarnya, ceritanya kayak gimana sih?" lalu kemudian ada yang menjelaskan, dan setelahnya, saya menyimpulkan kalau Serendipity cukup berbeda dengan Dear Nathan meskipun masih dalam lingkup yang sama, kehidupan anak SMA.



Di halaman-halaman awal, saya menebak bahwa Serendipity akan menyajikan kisah yang kelam, dan saat selesai membacanya, ternyata memang kelam, namun tidak sekelam yang saya harapkan sebelumnya. Serendipity berlatarkan kehidupan anak SMA, kedua tokoh utamanya pun memang masih duduk di bangku SMA, dengan masalah masing-masing yang disembunyikan rapat-rapat.

Di awal kita akan dibuat bertanya-tanya, apa sebenarnya yang terjadi? Benarkah Rani melakukan hal semacam itu? Untuk apa? Mengapa Arkan terlihat sangat membenci Rani? Apa semata-mata hanya karena malam itu? Kenapa Arkan sampai tega menyebarkan foto itu? Ingin balas dendam karena dikhianatikah? Dan berbagai pertanyaan lainnya. Erisca berhasil menyambungkan benang merah yang nantinya akan menghubungkan jawaban di balik pertanyaan-pertanyaan tersebut.


Terlihat jelas perkembangan jika dibandingkan dengan Dear Nathan, pembawaan Erisca terlihat lebih dewasa dan lebih rapi di karyanya kali ini. Ide cerita yang fresh di mana Erisca mengatakan bahwa ide tersebut muncul saat berita gang dolly sedang marak beredar, maka akhirnya ia menulis Serendipity, berlatarkan kehidupan anak SMA yang masih naif akan cinta. Namun sayangnya, di beberapa bagian saya merasa masih ada yang berbelit-belit sehingga mengurangi kenyamanan saat membaca.

Eh, ternyata saya punya kesamaan dengan Arkan! Sama-sama suka mendengarkan Mozart ! Saya suka dengar Mozart kalau lagi banyak pikiran atau sedang menulis review.

Serendipity rasanya berbeda dengan dua buku terbitan Inari sebelumnya, jika Sayap-Sayap Kecil dan Purple Eyes disajikan dengan tipis dan khas dengan unsur fantasy-nya yang menghanyutkan pembaca, maka Serendipity lebih kepada kelamnya kehidupan si tokoh utama yang penuh teka-teki.

Ini kisah Rani, dengan kehidupannya yang mulai berat terhitung sejak dua tahun setelah kepergian ayahnya. Keputusan berat harus dipilihnya demi bisa melanjutkan hidup, belum lagi dengan ibunya yang berubah seiring berjalannya waktu, tidak sehangat dulu lagi. Semuanya berubah. Kehidupan seakan tak adil. Membuat Rani kadang-kadang berpikir, untuk apa ia hidup di dunia ini? 

Terima kasih untuk Haru dan Inari yang memberikan kesempatan membaca Serendipity terlebih dahulu dan memercayakanku menuliskan early review Serendipity :)

Rating : 3.7 of 5.

7 komentar:

  1. Saya mengikuti komentar mengenai Dear Nathan yang sempat heboh di twitter. Dan karena itu, saya sudah terpengaruh untuk tidak terlalu meletakan ekspektasi tinggi untuk karya-karya yang diangkat dari wattpad. Ini pendapat kelirukah? Semoga ada karya wattpad yang kemudian menyadarkan saya. Hoho :)

    BalasHapus
  2. Belum pernah kepilih jadi early reviewer spt kiki. Hihihi. Kalau nanti buku ini sudah beredar di aku mau baca serendipity ah. Mau lihat sisi lain dari si penulis dalam mengolah karakternya. Trs reviewnya ki

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. Sedikit envy sama kamu.. di saat yg lain nunggu datengnya nih novel kamu malah udah jadi early reviewer *sigh*

    Anyway aku baca Serendipity di wattpad sebelum booming dan sayangnya ga full sampe akhir karena sibuk ga sempet buka2 wattpad. Tapi emang bener ini beda dari Dear Nathan, Eris lebih berani di sini. Suka sama review kamu btw. Nice :)

    BalasHapus
  5. Gua baru aja mikir mau beli bkunya..
    Kemaren sempet liat di toko buku bagian best seller
    Thanks yah reviewnya

    BalasHapus

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS